Sisa semalam

Mereka yang bentar lagi matang


Jadi dua sohib gw ini mau nikah. I mean, they will marry their own bride. Meskipun ga menutup kemungkinan juga kalo mereka ini sama-sama suka karena barengan selama kuliah 4.5 tahun. Tapi akhirnya mereka mutusin untuk menikah normal (what if that is just for their alibi?).

Ok, lupakan ngelanturnya.

Singkat cerita, semalem kami dadakan ketemuan. Ntah kenapa yang mendadak emang lebih gampang ketimbang yang direncanain.

(Seriously, gw ama anak2 banyak rencana dari rambut gw item semua sampe sekarang transisi jadi Dumbledore, tapi yang dadakan selalu yang kejadian)

Pas Angger nongol (oiya, Angger yang gemuk dan plontos itu, ketauan kan dari potongannya dia kerja apaan? Betul, dia ahli kecantikan), dengan polosnya doi ngomong.

“Lo kapan tak?”
Dalam hati: bangke nih bocah, gw ngerti banget maksudnya apaan.

Langsung aja gw lempar bola ke si Okta (temen gw yang paling mirip Rowan Atkinson itu).
“Doski dulu lah, kan dia yang dari kemaren udah bilang ngebet mau nikah,” kata gw sambil nunjuk si Oncom.
“Gw Februari.” Kata Okta mantap.
Gw bengong, jadi Okta udah ganti nama jadi Februari, sejak kapan? 😱

Bukan, sebenarnya bukan itu, gw bengong karena dua temen berengsek gw ini tau2 udah mau lepas masa lajangnya.

Sempat panik, but i try to be as cool as always. 😎

“Anjirrrrr, jadi lo berdua udah mantep!” Pernyataan bodoh karena Angger kan tinggal seminggu lagi nikahnya 😒

Akhirnya malam itu kami abisin buat ngobrol soal persiapan dua cunguk ini. Mulai dari dana sampe perjuangan mereka buat nyiapin semua itu. Yang paling penting, ritual bangunin ingatan masa2 suram di kampus tetep kami lakukan.

Panik? Sempet.

Wajarlah, satu persatu sohib pada mau next level jadi super saiya (maksud gw, nikah). 

Tapi semua orang berjalan pada lini masa masing-masing kan.
Semoga lo berdua lancar yak, terutama Angger yang udah tinggal seminggu lagi eksekusi (tepatnya 29 Juli) dari semenjak tulisan ini gw bikin di tengah tenggat tulisan untuk koran. Hihihi maapkan saya dakturs ✌🏽

Udah ahh, sakit mata dan agak gatel2 akibat kebanyakan nulis kata nikah (nah ini lo tulis lagi pea). Pasalnya, gw lagi umpetin sebentat definisi kata itu dari ingatan. Sampe nanti ada yang masukin disk nya ke slot yang benar. (Ric)

Advertisements

Bergaya Namun Tak Berdaya

Aku pun mulai merasa kasihan dengan sang rembulan. Dia menjadikan bumi sebagai poros perputarannya, namun, bumi malah menjadikan mentari menjadi poros perputarannya.
Lucunya, beberapa waktu mentari dan rembulan saling menunjukan kesuperiorannya. Mereka saling menutupi satu sama lain dalam fenomena gerhana. 
Bumi mungkin hanya terlihat menikmati itu semua. Namun percayalah, dia mengagumi masing-masing fenomena itu.

Terlihat tidak berdaya, namun itulah realita yang digariskan terhadap ketiganya. Tidak terlihat lelah, namun pada akhirnya pasti akan ada yang menyerah. Itu tanda dari akhir segalanya. (Ric)

Hasrat Pulang

Jadi, sudah 7 tahun, ya?

Sebuah notifikasi di salah satu jejaring sosial membawa kembali kenangan 7 tahun lalu. Menelisik tanggalnya, 18 Mei 2010, hari selasa. Bukan, bukan harinya, tapi itu hari terakhir di rumah yang 17 tahun menjadi bagian hidup. Continue reading

19 Maret, 02:25

Ini bukan perayaan kematian. Siapa pula yang mau merayakan kematian abangnya sendiri? Bodoh.
Ini cuma sekadar pengingat, tentang kejadian 7 tahun lalu saat dunia merenggut satu-satunya saudara yang saya punya.

Membuat empat menjadi tiga. Untuk alasan yang sampai saat ini belum saya temukan.
Ga mau lagi pake kata seandainya, kalau, misalnya. Itu ga ngerubah keadaan. Yang jelas, ruang kosong itu akan selalu menganga, sampai nanti kita ketemu lagi. (Ric)

Bayimu yang Merah

Bayimu masih merah, kak.
Tapi kau sudah ajak dia berkenalan dengan Ibu Kota.

Bayimu masih merah, kak.
Tapi kau sudah izinkan dia dibelai matahari sepanjang jalan.

Bayimu masih merah, kak.
Tapi kau sudah izinkan dia mendengar paduan suara dari gemuruh kendaraan.

Bayimu masih merah, kak.
Tapi kau sudah izinkan dia menghirup asap batuk nan hitam dari metromini dan kopaja.

Bayimu masih merah, kak.
Tapi kau sudah biarkan dia terkepit di ketiakmu selagi kau menikmati hujan dengan jasmu.

Bayimu masih merah, kak.
Tidak seharusnya dia dibawa berkendara sejauh itu.

*Untuk kegusaran saya yang acap kali melihat keluarga kecil berkendara jauh menggunakan roda dua, dengan bayi merahnya yang sebaiknya belum jangan diperkenalkan dulu dengan kerasnya jalanan*

Rindu yang Rancu

Entah kenapa, ini selalu muncul beberapa bulan terakhir. Mengusik mimpi dan kenyamanan.
Dulu sekali, aku pernah merasakan ini. Ini rindu, bukan? entahlah.
kenapa harus rindu?. Untuk siapa?. Continue reading

Antara Hujan dan Percakapan

theres-no-buddy-like-a-brother-4

Image Credit: www.quotesvalley.com

Sore itu hujan deras, dua saudara itu duduk di teras rumah.
Mereka berbalas ucapan. Bukan, bukan sebuah pertengkaran. Itu dialog.
Dialog absurd yang anehnya berdurasi sangat panjang. Mereka berdua tentu tidak sadar, namun awan hujan mengetahui hal itu.
Bosan tariannya tak digubris, sang hujan akhirnya menyerah. Dia menyerah karena ternyata obrolan sepasang laki-laki itu berlangsung lebih seru dari tariannya. Continue reading